Islam dan Perdamaian
إنَّ الْحَمْدَ للهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم
مُّسْلِمُونَ _ أما بعد
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah
swt dzat yang telah menciptakan kita dalam bentuk yang sempurna, dzat yang
mengatur segala urusan kita, semua urusan manusia ada dalam genggaman_nya,
dialah dzat yang satu-satunya harus disembah dan tidak boleh menyekutukan_nya
dengan sesuatu yang lain.
Shalawat dan selam semoga tercurahkan bagi
Nani mulia panutan kita semua, Nabi Muhammad saw, beserta keluarganya,
sahabat-sahabatnya dan umatnya yang mengikuti jejaknya sampai hari kiyamat.
Dalam dua pekan ini kita dihebohkan dengan
film yang merendahkan dan menghina Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, berbagai respon pun berdatangan, dari kecaman hingga perbuatan
onar. Sangat disayangkan, pengerusakan yang membabi buta, membunuh pihak-pihak
yang tidak bersalah pun terjadi, tentu bukan bagian dari ajaran Islam. Ya,
memang vonis hukuman bagi penghina Nabi harus dijalankan, tapi apakah eksekusi
itu diterapkan oleh setiap orang tanpa aturan? Apakah orang-orang yang hanya
satu warga negara pun menanggung dosa pembuat film tersebut?
Kaum muslimin rahimakumullah
Bagi seorang muslim seharusnya mampu membaca
situasi, agar tidak terjebak pada fitnah yang terjadi. Karena bolehjadi ini
merupakan profokasi dan sifat adu domba yang dilemparkan oleh musuh-mush Islam
agar umat Islam berpecah dan saling bermusuhan.
Sesungguhnya perdamaian merupakan
salah satu prinsip dalam Islam yang ditanam secara mendalam dalam hati kaum
muslimin sehingga menjadi bagian dalam kehidupan mereka. Sejak munculnya cahaya
Islam ke dunia, ia dengan tegas mengajak kepada perdamaian dan meletakkan jalan
hidup yang bijak yang dapat dilalui setiap insan.
Lafaz Islam sendiri, berasal dari kata As
Salaam, yang artinya perdamaian. Salam dan Islam sama-sama bertemu mengajak
kepada ketentraman, keamanan, ketenangan dan kedamaian. Bahkan Tuhan pemilik
agama ini di antara nama-Nya adalah As Salaam, karena Dialah yang
memberikan keamanan bagi manusia dengan syariat yang ditetapkan-Nya. Sedangkan
pembawa agama ini, yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
pembawa bendera perdamaian dan keselamatan.
Abdullah bin Salam radhiallahu ‘anhu berkata:
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di
Madinah, orang-orang segera pergi menuju Beliau.,,,Aku ikut hadir bersama
orang-orang untuk melihatnya, ketika tampak jelas bagiku wajah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, aku pun mengetahui bahwa wajahnya bukanlah wajah seorang
pendusta. Ketika itu, ucapan yang pertama kali Beliau ucapkan adalah:
ياَ أَيُّهَا النَّاسُ
أَفْشُو السَّلاَمَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوْا وَالنَّاسُ نِيَامٌ
تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah
makan kepada orang lain dan shalatlah di saat orang-orang sedang tidur niscaya
kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Tirmidzi, lih. Shahihul
Jaami’ no. 7865)
Lebih dari itu,
penghormatan kaum muslimin yang digunakan untuk menyatukan hati, memperkuat
hubungan dan mengikat seseorang dengan saudaranya adalah ucapan salam _
Assalamu’alaikum wr wb _ yang artinya damai dan selamat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan
lafaz salam sebagai penghormatan sesama kaum muslimin untuk mengingatkan mereka
bahwa sesungguhnya agama mereka adalah agama perdamaian dan keamanan, bukan
agama yang datang untuk mengancam dan menakut-nakuti. Apalagi sesama muslim,
karena sesame muslim adalah bersaudara, sebagaimana firman-Nya :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ
“Orang-orang
beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat: 10)
Islam juga melarang memerangi orang-orang yang tidak memerangi kaum muslimin, di mana mereka berlepas diri dari peperangan yang berkecamuk antara kaum muslimin dengan musuh mereka, dan sikap mereka menunjukkan ingin damai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ
فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللهُ
لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلاً
“Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak
memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi
jalan bagimu (untuk memerangi) mereka.” (QS. An Nisaa’: 90)
Tidak hanya itu, apabila musuh menyampaikan
salam dengan lisannya, maka kita tidak boleh memeranginya, Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَقُولُوا لِمَنْ
أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلاَمَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا فَعِندَ اللهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنتُمْ مِّن قَبْلُ
فَمَنَّ اللهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا
“Janganlah kamu mengatakan kepada orang yang
mengucapkan salam kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu
membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di
sisi Allah ada harta yang banyak. (bukankah) begitu juga keadaan kamu dahulu,
lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah…” (QS. An Nisaa’: 94)
Dengan banyaknya disebut dan diulang kata-kata
salam ini dalam aktifitas seorang muslim diharapkan sekali dapat membangkitkan
semua indera, pikiran dan sikapnya untuk mengarah kepada prinsip As
Salaam (perdamaian) ini.
Kaum muslimin rahimakumullah
Ajaran-ajaran Islam
begitu mulia, Islam memerintahkan kita memiliki sifat pemaaf, namun tetap
memperhatikan agar kejahatan tetap diberikan hukuman yang setimpal agar tidak
memunculkan kejahatan yang baru. Islam memerintahkan agar manusia selalu
berbuat baik, sekalipun terhadap orang yang pernah berbuat jahat kepadanya.
Islam mengajarkan manusia agar mereka banyak
beribadah kepada Allah, tetapi jangan menjadi rahib yang melupakan hak diri dan
orang lain. Islam memerintahkan manusia berendah hati, namun jangan melupakan harga diri. Oleh karena itu,
Islam melarang bersikap lemah dan meminta damai dalam peperangan ketika belum
tercapai tujuan, bahkan berdamai di saat seperti ini merupakan kelemahan dan
kehinaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلاَتَهِنُوا
وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ اْلأُعْلَوْنَ وَاللهُ مَعَكُمْ وَلَن
يَّتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal
kamulah yang lebih tinggi dan Allah pun bersamamu…” (QS. Muhammad: 35)
Sesungguhnya
perdamaian dalam Islam tidak ada kecuali setelah kuat dan mampu, sudah tidak
ada lagi permusuhan, dan tidak ada lagi kezaliman di muka bumi serta seseorang
tidak boleh dianiaya ketika menjalankan agamanya dan mendakwahkannya.
Oleh karena itu, bagi
orang-orang yang sengaja menyulut dan menebar fitnah agar islam tidak berdamai
dan merusak kondisi social di dunia ini, jelas harus diberikan hukuman yang
sangat berat sehingga dia merasa menyesal dan bertaubat dari perbuatannya itu.
Dan bagi umat Islam,
supaya tidak mudah terprovokasi dan diadu domba oleh pihak musuh Islam yang
tidak suka umatnya bersatu. Justru, marilah kita bersatu, satukan visi dan
misi, saling bahu membahu dalam menjalankah syari’at Islam ini agar dunia aman
dan damai. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
الجماعة رحمة و الفرقة
عذاب
“ Berjama’ah itu akan mendapatkan rahmat,
sedangkan berpecah belah (tidak berdamai) itu akan mendatangkan adzab”.
Sekian, wallahu
a’lam bishshawab
0 komentar:
Posting Komentar