Minggu, 10 November 2013

Shoum 'Asyura


Bismillahirrahmanirrahim
 
SHOUM ‘ASYURA

Pengertian

‘Asyura berasal dari kata ‘asyarah berarti sepuluh. Sering disebut juga yaumu ‘asyura yaitu hari yang ke sepuluh di bulan Muharram. Shoum ‘asyura adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal sepuluh Muharram. Setiap kaum muslimin disunnahkan melaksanakan ibadah sunnah shoum ‘asyura ini setiap tahunnya satu kali. Sebagaimana sabdanya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ     (رواه مسلم)
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram dan shalat yang paling utama setelah puasa wajib adalah sholat lail” (H.R. Muslim, Shahih Muslim, bab. Fadlu shoumi al muharram, juz. 6, hal. 63, no. 1982)

Dalil-dalil dan Hukumnya

Adapun dalil-dalil yang menjadi dasar ibadah shoum ‘asyura adalah :

1.      Hadits tentang sejarah orang Yahudi melaksanakan shoum ‘asyura, dan sikap Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam terhadap amalan mereka.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ (رواه البخاري و مسلم)
Ibnu Abbas r.a berkata : Ketika Rasulullah shallallohu alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘ Asyura, maka Beliau bertanya : "Hari apa ini?. Mereka menjawab, “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pun bersabda, "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa.” (H.R. Bukhari, Shahih Bukhari, bab. Shiyaamu yaumi ‘asyura, juz. 7, hal. 127, no. 1865)

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ (رواه مسلم)

Dari Abu Musa r.a. berkata, “Hari ‘Asyuro adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda (kepada ummatnya), “Berpuasalah kalian (pada hari itu)” (H.R. Muslim, Shahih Muslim, bab. Shaumu yaumu ‘asyura, juz. 5, hal. 474, no. 1912)

Berdasarkan hadits di atas, bahwa orang-orang yahudi melaksanakan shoum ‘asyura pada setiap tahunnya tanggal 10 Muharram. Bahkan mereka menjadikan hari ini sebagai hari raya. Hari ini merupakan hari dimana nabiyullah Musa ‘alaihis salam dan pengikutnya diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun di laut Merah.

Namun Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyebutkan bahwa, hari ‘asyura adalah hari di mana umat Islam lebih berhak untuk memanfaatkan moment penting di dalamnya untuk beribadah.

2.      Hadits tentang orang-orang Quraiys melaksankan shoum ‘asyura
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ الْفَرِيضَةَ وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ(رواه البخاري)
Dari Aisyah radhiyallohu anha berkata : Kaum Qurays pada masa Jahiliyyah juga berpuasa di hari ‘Asyuro dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam juga berpuasa pada hari itu, ketika beliau telah tiba di Madinah maka beliau tetap mengerjakannya dan memerintahkan ummatnya untuk berpuasa. Setelah puasa Ramadhan telah diwajibkan beliau pun meninggalkan (kewajiban) puasa ‘Asyuro, seraya bersabda, “Barangsiapa yang ingin berpuasa maka silakan tetap berpuasa dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa maka tidak mengapa” (H.R. Bukhari, Shahih Bukhari, bab. Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumus shiyaan, juz. 13, hal. 442, no. 4144)

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Umar. Di mana ketika orang-orang Quraiys melaksanakan shoum ‘asyura, kaum muslimin juga melaksankan shoum sebagai ibadah wajib sebelum diwajibkannya ibadah shoum di bulan Ramadhan. Baru setelah ibadah shoum di bulan Ramadhan diwajibkan shoum ‘asyura terhapus hukum kewajibannya, dan berubah menjadi sunnah.
 
3.      Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sangat memperhatikan shoum ‘asyura
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
Dari Ibnu Abbas r.a. berkata : "Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu Ramadhan.” (H.R. Bukhari, Shahih Bukhari, bab. Shiyaamu yaumi ‘asyura, juz. 7, hal. 129, no. 1867)

عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ الَّتِي حَوْلَ الْمَدِينَةِ مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمْ اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الْإِفْطَارِ
Dari Rubai’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra’ radhiyallohu ‘anha berkata : Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam di pagi hari Asyuro mengutus ke perkampungan kaum Anshar yang berada di sekitar Medinah (pesan), “Barangsiapa yang tidak berpuasa hari itu hendaknya menyempurnakan sisa waktu di hari itu dengan berpuasa dan barangsiapa yang berpuasa maka hendaknya melanjutkan puasanya”. Rubai’ berkata, “Maka sejak itu kami berpuasa pada hari ‘Asyuro dan menyuruh anak-anak kami berpuasa dan kami buatkan untuk mereka permainan yang terbuat dari kapas lalu jika salah seorang dari mereka menangis  karena ingin makan maka kami berikan kepadanya permainan tersebut hingga masuk waktu berbuka puasa” (H.R. Muslim, Shahih Muslim, bab. Min akli fie ‘asyura falyakfi baqiyatun, juz. 5, hal. 485, no. 1919)

Keutamaan Shoum ‘Asyura
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ (رواه الترمذي)
Dari Ma’bad dari Abu Qatadah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda : “Puasa hari ‘Asyuro aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa tahun lalu” (H.R. Tirmidzi, Sunan At Tirmidzi, bab. Maa jaa fi al hatstsi ala shoumi yaumin, juz. 3, hal. 215, no. 683)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunannya, no. 1728, Ahmad dalam Musnadnya. Di dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah menekankan akan pentingnya shoum di hari ‘Asyura.

Dianjurkan juga shoum sehari sebelum shoum ‘asyura, hari itu disebut yaumu tasu’a yaitu hari ke Sembilan di bulan Muharram. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan keinginannya kepada para sahabat, bahwa beliau hendak melaksanakan shoum ditanggal sembilannya untuk tahun yang akan datang bila umur masih ada. Sebagaimana sabdanya :
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ
"Jika tahun depan insya Allah (kita bertemu kembali dengan bulan Muharram), kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“(H.R. Muslim, lihat dalam shahihnya, bab. Ayyu yaumin yashumu fie ‘asyura, juz. 5, hal. 479, no. 1916)

Asbabul wurud hadits ini Ibnu Abbas menuturkan, ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shoum ‘asyura dan memerintahkan kepada para sahabatnya untuk melaksanakan shoum ‘asyura sebagaimana yang beliau kerjakan. Para sahabat berkata : "Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". (Lihat dalam konteks hadits yang sama riwayat Muslim dalam shahihnya, bab. Ayyu yaumin yashumu fie ‘asyura, juz. 5, hal. 479, no. 1916)

Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lebih menegaskan lagi, agar melaksanakan shoum dua hari pada bulan ini, yaitu tanggal Sembilan dan sepuluhnya dengan maksud menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana sabdanya :

صُومُوا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ
“Berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram, berbedalah dengan orang Yahudi” (H.R. Al-Baihaqi, Sunan Al-Kubra, juz. 4, hal. 287)

Akan tetapi belum tiba Muharram tahun depan tiba, hingga Rasulullah shallallohu alaihi wasallam wafat di tahun tersebut. (Lihat dalam konteks hadits yang sama riwayat Muslim dalam shahihnya, bab. Ayyu yaumin yashumu fie ‘asyura, juz. 5, hal. 479, no. 1916)

Lantas, bagaimana dengan shoum setelah ‘asyura yaitu tanggal sebelas Muharram ?

Ada sebuah hadits dari Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Baihaqi, dengan sabdanya :

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا
"Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ (H.R. Imam Ahmad, dalam Musnadnya, bab. bidayah musnad Abdullan bin Abbas, juz. 5, hal. 79, no. 2047. Bisa dilihat juga di Assunan Al Kubraa karya Imam Al-Baihaqi, juz. 4, hal. 287)

Namun hadits ini sanadnya lemah, Asy Syaikh Al Albani rahimahulloh menyatakan, “Hadits ini sanadnya lemah karena salah seorang perowi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila  jelek hafalannya, selain itu riwayatnya menyelisihi riwayat ‘Atho bin Abi Rabah dan selainnya yang juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih bahwa ini adalah perkataan  Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma sebagaimana yang disebutkan oleh Thahawi dan Baihaqi (Ta’liq Shohih Ibn Khuzaimah (3/290))

Namun demikian puasa sebanyak tiga hari (9,10,dan 11 Muharram) dikuatkan oleh para ulama dengan dua alasan :

1.      Sebagai kehati-hatian, yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat,maka puasa tanggal sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)

2.      Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh). Wallahu A’lam

Adapun puasa tanggal 9 dan 10, pensyariatannya dinyatakan dalam hadis  yang shahih, dimana Rasulullah  shallallohu alaihi wasallam pada akhir hidup beliau sudah merencanakan untuk puasa pada tanggal 9, hanya saja beliau wafat sebelum melaksanakannya. Beliau juga telah memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.

Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan shoum Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah shallallohu alaihi wasallam untuk melsanakannya, sekalipun hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah(sangat dianjurkan), dan tentunya kita sepatutnya berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.

Oleh :

Iman Sulaeman

0 komentar:

Posting Komentar