Bismillahirrahmanirrahim
Pengertian
‘Asyura berasal dari kata ‘asyarah
berarti sepuluh. Sering disebut juga yaumu ‘asyura yaitu hari yang ke
sepuluh di bulan Muharram. Shoum ‘asyura adalah puasa sunnah yang dilaksanakan
pada tanggal sepuluh Muharram. Setiap kaum muslimin disunnahkan melaksanakan
ibadah sunnah shoum ‘asyura ini setiap tahunnya satu kali. Sebagaimana sabdanya
:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ
الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ (رواه مسلم)
“Puasa yang paling utama
setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram dan shalat yang
paling utama setelah puasa wajib adalah sholat lail” (H.R. Muslim, Shahih
Muslim, bab. Fadlu shoumi al muharram, juz. 6, hal. 63, no. 1982)
Dalil-dalil dan Hukumnya
Adapun dalil-dalil yang menjadi
dasar ibadah shoum ‘asyura adalah :
1.
Hadits tentang
sejarah orang Yahudi melaksanakan shoum ‘asyura, dan sikap Rasulullah
shallallaahu ‘alihi wa sallam terhadap amalan mereka.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ
تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا
يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى
قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ (رواه
البخاري و مسلم)
Ibnu Abbas r.a
berkata : Ketika Rasulullah shallallohu alaihi wasallam tiba di Madinah, beliau
melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘ Asyura, maka Beliau bertanya :
"Hari apa ini?. Mereka menjawab, “Ini adalah hari istimewa,
karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu
Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah shallallohu alaihi wasallam
pun bersabda, "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ Maka
beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa.” (H.R. Bukhari, Shahih
Bukhari, bab. Shiyaamu yaumi ‘asyura, juz. 7, hal. 127, no. 1865)
عَنْ
أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا
تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ (رواه مسلم)
Dari Abu Musa
r.a. berkata, “Hari ‘Asyuro adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi
dan mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallohu alaihi
wasallam bersabda (kepada ummatnya), “Berpuasalah kalian (pada hari itu)” (H.R.
Muslim, Shahih Muslim, bab. Shaumu yaumu ‘asyura, juz. 5, hal.
474, no. 1912)
Berdasarkan
hadits di atas, bahwa orang-orang yahudi melaksanakan shoum ‘asyura pada setiap
tahunnya tanggal 10 Muharram. Bahkan mereka menjadikan hari ini sebagai hari
raya. Hari ini merupakan hari dimana nabiyullah Musa ‘alaihis salam dan
pengikutnya diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun di laut Merah.
Namun
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyebutkan bahwa, hari
‘asyura adalah hari di mana umat Islam lebih berhak untuk memanfaatkan moment
penting di dalamnya untuk beribadah.
2.
Hadits tentang
orang-orang Quraiys melaksankan shoum ‘asyura
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
قَالَتْ كَانَ
يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ
صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ
الْفَرِيضَةَ وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ
يَصُمْهُ(رواه البخاري)
Dari Aisyah
radhiyallohu anha berkata : Kaum Qurays pada masa Jahiliyyah juga berpuasa
di hari ‘Asyuro dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam juga berpuasa pada
hari itu, ketika beliau telah tiba di Madinah maka beliau tetap mengerjakannya
dan memerintahkan ummatnya untuk berpuasa. Setelah puasa Ramadhan telah
diwajibkan beliau pun meninggalkan (kewajiban) puasa ‘Asyuro, seraya bersabda,
“Barangsiapa yang ingin berpuasa maka silakan tetap berpuasa dan barangsiapa
yang tidak ingin berpuasa maka tidak mengapa” (H.R. Bukhari, Shahih
Bukhari, bab. Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumus shiyaan,
juz. 13, hal. 442, no. 4144)
Hadits senada
juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abdullah bin Umar. Di mana ketika
orang-orang Quraiys melaksanakan shoum ‘asyura, kaum muslimin juga melaksankan
shoum sebagai ibadah wajib sebelum diwajibkannya ibadah shoum di bulan
Ramadhan. Baru setelah ibadah shoum di bulan Ramadhan diwajibkan shoum ‘asyura terhapus
hukum kewajibannya, dan berubah menjadi sunnah.
3.
Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sangat memperhatikan shoum
‘asyura
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا قَالَ مَا
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ
فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا
الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ
Dari Ibnu Abbas
r.a. berkata : "Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallohu alaihi
wasallam, berupaya keras untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya
kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu Ramadhan.” (H.R.
Bukhari, Shahih Bukhari, bab. Shiyaamu yaumi ‘asyura, juz. 7,
hal. 129, no. 1867)
عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ
بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى
قُرَى الْأَنْصَارِ الَّتِي حَوْلَ الْمَدِينَةِ مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا
فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ
يَوْمِهِ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ
مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمْ
اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ
أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الْإِفْطَارِ
Dari Rubai’
bintu Mu’awwidz bin ‘Afra’ radhiyallohu ‘anha berkata : Nabi Muhammad
shallallohu alaihi wasallam di pagi hari Asyuro mengutus ke perkampungan kaum
Anshar yang berada di sekitar Medinah (pesan), “Barangsiapa yang tidak
berpuasa hari itu hendaknya menyempurnakan sisa waktu di hari itu dengan
berpuasa dan barangsiapa yang berpuasa maka hendaknya melanjutkan puasanya”.
Rubai’ berkata, “Maka sejak itu kami berpuasa pada hari ‘Asyuro dan menyuruh
anak-anak kami berpuasa dan kami buatkan untuk mereka permainan yang terbuat
dari kapas lalu jika salah seorang dari mereka menangis karena ingin makan maka kami berikan
kepadanya permainan tersebut hingga masuk waktu berbuka puasa” (H.R.
Muslim, Shahih Muslim, bab. Min akli fie ‘asyura falyakfi baqiyatun,
juz. 5, hal. 485, no. 1919)
Keutamaan
Shoum ‘Asyura
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ عَنْ
أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ
إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ (رواه
الترمذي)
Dari Ma’bad dari Abu Qatadah
radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda : “Puasa
hari ‘Asyuro aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa tahun lalu” (H.R.
Tirmidzi, Sunan At Tirmidzi, bab. Maa jaa fi al hatstsi ala shoumi
yaumin, juz. 3, hal. 215, no. 683)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh
Ibnu Majah dalam Sunannya, no. 1728, Ahmad dalam Musnadnya. Di
dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah menekankan akan pentingnya
shoum di hari ‘Asyura.
Dianjurkan
juga shoum sehari sebelum shoum ‘asyura, hari itu disebut yaumu tasu’a
yaitu hari ke Sembilan di bulan Muharram. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam menyampaikan keinginannya kepada para sahabat, bahwa beliau hendak
melaksanakan shoum ditanggal sembilannya untuk tahun yang akan datang bila umur
masih ada. Sebagaimana sabdanya :
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ
إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ
الْمُقْبِلُ
"Jika tahun depan insya
Allah (kita bertemu kembali dengan bulan Muharram), kita akan berpuasa juga
pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“(H.R. Muslim, lihat dalam
shahihnya, bab. Ayyu yaumin yashumu fie ‘asyura, juz. 5, hal. 479, no.
1916)
Asbabul wurud hadits ini Ibnu
Abbas menuturkan, ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan
shoum ‘asyura dan memerintahkan kepada para sahabatnya untuk melaksanakan shoum
‘asyura sebagaimana yang beliau kerjakan. Para sahabat berkata : "Ya
Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani". (Lihat
dalam konteks hadits yang sama riwayat Muslim dalam shahihnya, bab. Ayyu
yaumin yashumu fie ‘asyura, juz. 5, hal. 479, no. 1916)
Bahkan Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam lebih menegaskan lagi, agar melaksanakan shoum dua hari pada
bulan ini, yaitu tanggal Sembilan dan sepuluhnya dengan maksud menyelisihi
orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana sabdanya :
صُومُوا
التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ
“Berpuasalah pada tanggal
sembilan dan sepuluh Muharram, berbedalah dengan orang Yahudi” (H.R.
Al-Baihaqi, Sunan Al-Kubra, juz. 4, hal. 287)
Akan tetapi belum tiba Muharram
tahun depan tiba, hingga Rasulullah shallallohu alaihi wasallam wafat di tahun
tersebut. (Lihat dalam konteks hadits yang sama riwayat Muslim dalam shahihnya,
bab. Ayyu yaumin yashumu fie ‘asyura, juz. 5, hal. 479, no. 1916)
Lantas, bagaimana dengan shoum
setelah ‘asyura yaitu tanggal sebelas Muharram ?
Ada sebuah hadits dari Ibnu
Abbas, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Baihaqi, dengan sabdanya :
صُومُوا
يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ
بَعْدَهُ يَوْمًا
"Puasalah pada hari Asyuro,
dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya
atau sehari sesudahnya.“ (H.R. Imam Ahmad, dalam Musnadnya, bab. bidayah
musnad Abdullan bin Abbas, juz. 5, hal. 79, no. 2047. Bisa dilihat juga di Assunan
Al Kubraa karya Imam Al-Baihaqi, juz. 4, hal. 287)
Namun hadits ini sanadnya lemah,
Asy Syaikh Al Albani rahimahulloh menyatakan, “Hadits ini sanadnya lemah karena
salah seorang perowi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila jelek hafalannya, selain itu riwayatnya
menyelisihi riwayat ‘Atho bin Abi Rabah dan selainnya yang juga meriwayatkan
dengan sanad yang shohih bahwa ini adalah perkataan Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma sebagaimana
yang disebutkan oleh Thahawi dan Baihaqi (Ta’liq Shohih Ibn Khuzaimah (3/290))
Namun demikian puasa sebanyak
tiga hari (9,10,dan 11 Muharram) dikuatkan oleh para ulama dengan dua alasan :
1.
Sebagai kehati-hatian,
yaitu kemungkinan penetapan awal bulannya tidak tepat,maka puasa tanggal
sebelasnya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a
(tanggal 9) dan Asyuro (tanggal 10)
2.
Dimasukkan dalam puasa tiga
hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh). Wallahu A’lam
Adapun puasa tanggal 9 dan 10,
pensyariatannya dinyatakan dalam hadis
yang shahih, dimana Rasulullah
shallallohu alaihi wasallam pada akhir hidup beliau sudah merencanakan
untuk puasa pada tanggal 9, hanya saja beliau wafat sebelum melaksanakannya.
Beliau juga telah memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan
tanggal 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.
Secara umum, hadits-hadis yang
terkait dengan shoum Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah shallallohu alaihi
wasallam untuk melsanakannya, sekalipun hukumnya tidak wajib tetapi sunnah
muakkadah(sangat dianjurkan), dan tentunya kita sepatutnya berusaha untuk
menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.
Oleh :
Iman Sulaeman
0 komentar:
Posting Komentar