Metode Tahlili adalah metode menafsirkan
Al-Qur’an yang berusaha menjelaskan Al-Qur’an dengan menguraikan berbagai
seginya dan menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an. Metode ini adalah
yang paling tua dan paling sering digunakan. Tafsir ini dilakukan secara
berurutan ayat demi ayat kemudian surat demi surat dari awal hingga akhir
sesuai dengan susunan Al-Qur’an. Dia menjelaskan kosa kata dan lafazh,
menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat,
yaitu unsur-unsur I’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan
apa yang dapat diambil dari ayat yaitu hukum fikih, dalil syar’i, arti secara
bahasa, norma-norma akhlak dan lain sebagainya.
Menurut Malik bin Nabi, tujuan utama ulama
menafsirkan Al-Qur’an dengan metode ini adalah untuk meletakkan dasar-dasar
rasional bagi pemahaman akan kemukzizatan Al-Qur’an, sesuatu yang dirasa bukan
menjadi kebutuhan mendesak bagi umat Islam dewasa ini. Karena itu perlu
pengembangan metode penafsiran karena metode ini menghasilkan gagasan yang
beraneka ragam dan terpisah-pisah . Kelemahan lain dari metode ini adalah bahwa
bahasan-bahasannya amat teoritis, tidak sepenuhnya mengacu kepada
persoalan-persoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat mereka, sehingga
mengesankan bahwa uraian itulah yang merupakan pandangan Al-Qur’an untuk setiap
waktu dan tempat. Hal ini dirasa terlalu “mengikat” generasi berikutnya.
2. Metode Ijmali
(Global)
Metode ini adalah berusaha menafsirkan
Al-Qur’an secara singkat dan global, dengan menjelaskan makna yang dimaksud
tiap kalimat dengan bahasa yang ringkas sehingga mudah dipahami. Urutan
penafsiran sama dengan metode tahlili namun memiliki perbedaan dalam hal
penjelasan yang singkat dan tidak panjang lebar. Keistimewaan tafsir ini ada
pada kemudahannya sehingga dapat dikonsumsi oleh lapisan dan tingkatan kaum
muslimin secara merata. Sedangkan kelemahannya ada pada penjelasannya yang
terlalu ringkas sehingga tidak dapat menguak makna ayat yang luas dan tidak
dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.
3. Metode Muqarin
Tafsir ini menggunakan metode perbandingan
antara ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadits, atau antara pendapat-pendapat
para ulama tafsir dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang
diperbandingkan itu.
4. Metode Maudhu’i
(Tematik)
Metode ini adalah metode tafsir yang
berusaha mencari jawaban Al-Qur’an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an
yang mempunyai tujuan satu, yang bersama-sama membahas topik/judul tertentu dan
menertibkannya sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya,
kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan,
keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain kemudian
mengambil hukum-hukum darinya.
0 komentar:
Posting Komentar