Selasa, 11 Februari 2014

BERWUDLU 1


BERWUDLU
Pengertian
Di dalam kamus lisanul arab kata al wudlu dengan harakat dhammah pada huruf wawu berarti berwudlu yaitu baik dan bersih, sedangkan jika berharakat fathah di huruf yang sama seperti al wadlu maka berarti air yang dipergunakan untuknya. (lihat lianul arab 6/4, juga dinukil dalam subulussalam, 85)
Secara istilah syara’ wudlu adalah menggunakan air untuk membasuh anggota-anggota tubuh tertentu yang diawali dengan niat. (lihat fikih sunnah wanita, syaikh Ahmad Jad, 24). 
Maka bisa disimpulkan bahwa, berwudlu adalah membasuh dan mengusap sebagian anggota tubuh yang telah disyari’atkan oleh syara’ dengan air, seperti wajah (muka), tangan, dan kaki, yang diawali dengan niat.
Berwudlu merupakan syarat bagi sahnya shalat seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam;
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ  
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat salah seorang diantara kalian apabila berhadats sampai dia berwudhu”.(H.R. At Tirmidzi dari Abu Hurairah, 1/127 no. 71).
Di tegaskan lagi dalam hadits yang lain, bahwa berwudhu merupakan bagian dari keimanan seseorang, sebagaimana sabdanya;
الْوُضُوءِ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Wudlu merupakan bagian dari iman”.(H.R. An Nasai dari Abu Malik Al-Asy’ary, 8/153, no. 2394. Ibnu Majah, 1/330, no. 276)
Oleh karenanya Allah subhaanahu wa ta’ala mewajibkan bagi setiap muslim yang berhadats apabila hendak shalat untuk berwudhu. Sebagaimana firman-Nya;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.(Q.S. Al-Maidah : 6)

Kapan Waktu Diwajibkannya?
Dilihat dari segi waktu kapan diwajibkannya berwudlu? Para ulama berbada pendapat dalam hal ini. Ada yang menyebutkan, berwudlu diwajibkan ketika di Makkah, dan ada yang menyebutkan ketika Rasululullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di Madinah. Namun para ahli tahqiq menentukan bahwa berwudlu diwajibkan di Madinah, karena ayat di atas diturunkan di madinah. (lihat Subulussalam, Daar al bayan al arabiy, 2006, 1/58). Wallahu a’lam.

Keutamaan Berwudlu
Dalam berwdlu banyak sekali fadhilah-fadhilahnya, sebagaimana hadits yang datang dari Abu Hurairah r.a Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda;
إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ

Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudlu, kemudian dia membasuh wajahnya niscaya keluar setiap kesalahan dari wajahnya yang dia lihat dengan kedua matanya, bersamaan cucuran atau tetesan akhir air wudlu. Jika dia membasuh kedua tangannya, dosa-dosa yang dilakukan keluar bersama cucuran atau tetesan akhir air wudlu. Jika dia membasuh kedua kakinya, maka dosa-dosa yang dilangkahkan oleh keduanya keluar bersama cucuran atau tetesan akhir air wudlu, hingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.”(H.R. Malik, dalam Muwatha’ nya 1/81, no. 56. Muslim, 2/45, no. 360)
Dalam hadits lain pada riwayat yang sama disebutkan bahwa;
إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ فَتَمَضْمَضَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ فِيهِ وَإِذَا اسْتَنْثَرَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ أَنْفِهِ فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ وَجْهِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ يَدَيْهِ فَإِذَا مَسَحَ بِرَأْسِهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ أُذُنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْهِ قَالَ ثُمَّ كَانَ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ وَصَلَاتُهُ نَافِلَةً لَهُ

"Apabila seorang hamba mukmin berwudlu, lalu dia berkumur-kumur maka keluar dosa-dosa dari mulutnya. Apabila dia menyemburkan air yang telah dimasukkan ke hidung, maka dosa-dosa keluar dari hidungnya, jika dia membasuh wajahnya, maka dosa-dosa keluar dari wajahnya hingga keluar dari kedua kelopak matanya. Jika dia membasuh kedua tangannya, maka dosa-dosa keluar dari kedua tangannya hingga keluar dari kuku-kukunya, jika dia mengusap kepalanya, dosa-dosa keluar dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Jika dia membasuh kedua kakinya, maka dosa-dosa keluar dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya." Beliau bersabda: "Adapun perjalanan dia ke masjid dan shalatnya adalah tambahan baginya."(H.R. Malik dalam al muwaththa’, 1/80, no. 55)

Syarat Sah Wudlu
Ada beberapa syarat yang akan menjadikan wudlu seseorang menjadi sah, antara lain;
1.      Islam
2.      Mumayyiz
3.      Mengetahui cara-cara wudlu
4.      Tidak ada materi atau benda lain yang menghalangi air sampai ke kulit
5.      Tidak ada halangan apapun dari segi syari’at, seperti haidl dan nifas
6.      Air yang dipergunakan berwudlu harus suci.

Demikian pembahsan sementara tentang wudlu, dan insya Allah untuk pembahasan bagaimana tata cara berwudlu, sunnah-sunnah wudlu, hal-hal yang membatalkan wudlu, dan masalah lainnya, sesuai dengan dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, akan kita lanjutkan dalam edisi berikutnya. Bersambung.

Oleh :
Iman Sulaeman

0 komentar:

Posting Komentar