BERWUDLU
Pengertian
Di dalam kamus lisanul
arab kata al wudlu dengan harakat dhammah pada huruf wawu berarti
berwudlu yaitu baik dan bersih, sedangkan jika berharakat fathah di huruf yang
sama seperti al wadlu maka berarti air yang dipergunakan untuknya. (lihat
lianul arab 6/4, juga dinukil dalam subulussalam, 85)
Secara istilah
syara’ wudlu adalah menggunakan air untuk membasuh anggota-anggota tubuh
tertentu yang diawali dengan niat. (lihat fikih sunnah wanita, syaikh
Ahmad Jad, 24).
Maka bisa
disimpulkan bahwa, berwudlu adalah membasuh dan mengusap sebagian anggota tubuh
yang telah disyari’atkan oleh syara’ dengan air, seperti wajah (muka), tangan, dan
kaki, yang diawali dengan niat.
Berwudlu
merupakan syarat bagi sahnya shalat seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam;
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى
يَتَوَضَّأَ
“Sesungguhnya
Allah tidak akan menerima shalat salah seorang diantara kalian apabila
berhadats sampai dia berwudhu”.(H.R. At Tirmidzi dari Abu Hurairah, 1/127 no.
71).
Di tegaskan lagi
dalam hadits yang lain, bahwa berwudhu merupakan bagian dari keimanan
seseorang, sebagaimana sabdanya;
الْوُضُوءِ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Wudlu merupakan
bagian dari iman”.(H.R. An Nasai dari Abu Malik Al-Asy’ary, 8/153, no. 2394.
Ibnu Majah, 1/330, no. 276)
Oleh karenanya
Allah subhaanahu wa ta’ala mewajibkan bagi setiap muslim yang berhadats apabila
hendak shalat untuk berwudhu. Sebagaimana firman-Nya;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ
فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا
بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Hai
orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki”.(Q.S. Al-Maidah : 6)
Kapan
Waktu Diwajibkannya?
Dilihat
dari segi waktu kapan diwajibkannya berwudlu? Para ulama berbada pendapat dalam
hal ini. Ada yang menyebutkan, berwudlu diwajibkan ketika di Makkah, dan ada
yang menyebutkan ketika Rasululullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di
Madinah. Namun para ahli tahqiq menentukan bahwa berwudlu diwajibkan di
Madinah, karena ayat di atas diturunkan di madinah. (lihat Subulussalam,
Daar al bayan al arabiy, 2006, 1/58). Wallahu a’lam.
Keutamaan
Berwudlu
Dalam
berwdlu banyak sekali fadhilah-fadhilahnya, sebagaimana hadits yang datang dari
Abu Hurairah r.a Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda;
إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ
وَجْهَهُ خَرَجَتْ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ
مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ
مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ
قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا
رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ
نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ
“Apabila
seorang hamba muslim atau mukmin berwudlu, kemudian dia membasuh wajahnya
niscaya keluar setiap kesalahan dari wajahnya yang dia lihat dengan kedua
matanya, bersamaan cucuran atau tetesan akhir air wudlu. Jika dia membasuh
kedua tangannya, dosa-dosa yang dilakukan keluar bersama cucuran atau tetesan
akhir air wudlu. Jika dia membasuh kedua kakinya, maka dosa-dosa yang
dilangkahkan oleh keduanya keluar bersama cucuran atau tetesan akhir air wudlu,
hingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.”(H.R. Malik, dalam
Muwatha’ nya 1/81, no. 56. Muslim,
2/45, no. 360)
Dalam
hadits lain pada riwayat yang sama disebutkan bahwa;
إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ فَتَمَضْمَضَ
خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ فِيهِ وَإِذَا اسْتَنْثَرَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ أَنْفِهِ
فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ وَجْهِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ
تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ
حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ يَدَيْهِ فَإِذَا مَسَحَ بِرَأْسِهِ خَرَجَتْ
الْخَطَايَا مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ أُذُنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ
خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْهِ
قَالَ ثُمَّ كَانَ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ وَصَلَاتُهُ نَافِلَةً لَهُ
"Apabila
seorang hamba mukmin berwudlu, lalu dia berkumur-kumur maka keluar dosa-dosa
dari mulutnya. Apabila dia menyemburkan air yang telah dimasukkan ke hidung,
maka dosa-dosa keluar dari hidungnya, jika dia membasuh wajahnya, maka
dosa-dosa keluar dari wajahnya hingga keluar dari kedua kelopak matanya. Jika
dia membasuh kedua tangannya, maka dosa-dosa keluar dari kedua tangannya hingga
keluar dari kuku-kukunya, jika dia mengusap kepalanya, dosa-dosa keluar dari
kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Jika dia membasuh kedua kakinya,
maka dosa-dosa keluar dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya."
Beliau bersabda: "Adapun perjalanan dia ke masjid dan shalatnya adalah
tambahan baginya."(H.R.
Malik dalam al muwaththa’, 1/80, no. 55)
Syarat Sah Wudlu
Ada beberapa syarat yang akan
menjadikan wudlu seseorang menjadi sah, antara lain;
1. Islam
2. Mumayyiz
3. Mengetahui
cara-cara wudlu
4. Tidak ada
materi atau benda lain yang menghalangi air sampai ke kulit
5. Tidak ada
halangan apapun dari segi syari’at, seperti haidl dan nifas
6. Air yang
dipergunakan berwudlu harus suci.
Demikian
pembahsan sementara tentang wudlu, dan insya Allah untuk pembahasan bagaimana
tata cara berwudlu, sunnah-sunnah wudlu, hal-hal yang membatalkan wudlu, dan
masalah lainnya, sesuai dengan dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunnah
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, akan kita lanjutkan dalam edisi
berikutnya. Bersambung.
Oleh
:
Iman
Sulaeman
0 komentar:
Posting Komentar