Selasa, 11 Februari 2014

BERWUDLU 3

0 komentar

BERWUDLU

Hal-hal yang membatalkan wudlu
Kalimat membatalkan wudhu merupakan arti secara bahasa dari nawaaqidl al wudhu. Dalam pembahasan fiqih nawaaqidl selalu diidentikan dengan pembatalan termasuk dalam masalah wudhu. Dan perlu diketahui bahwa hal-hal yang membatalkan wudhu juga membatalkan tayamum (lihat subulu as salaam bab nawaqidl al wudhu).

Sebelum masuk pada pembahasan, terlebih dahulu kita kenali pengertian hadats baik menurut ma’na lughawi maupun isthilahy.

Dalam perspektif fiqih, pengertian hadats secara etimologi (lughawy) sama dengan al-ghaaith yang berarti kotoran, tidak suci. Sedangkan secara terminology (isthilahy) hadats adalah suatu keadaan yang mengharuskan seseorang untuk bersuci, baik itu hadats besar maupun hadats kecil.

Dan telah dijelaskan bahwa hadats besar adalah hadats yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi, sementara hadats kecil adalah hadats yang bisa dihilangkan cukup dengan wudhu. Nah, edisi kali ini kami akan membahas mengenai pembatal wudhu atau hadats kecil dan sedikit menyinggung tentang hadats besar.

Dalam Membahas masalah bentuk dan macam-macam pembatal wudhu, ditemukan, ada yang sudah dalam kesepakatan para ulama dan masih ada yang diperselisihkan :

Mari kita simak dengan seksama pembatal-pembatal wudhu yang sudah disepakati oleh para ulama;
1.       Keluarnya sesuatu dari dua jalan, yaitu dari qubul dan dubur
Yang dimaksud dengan qubul adalah kemaluan, sedangkan dubur adalah anus. Jadi apabila ada yang keluar sesuatu dari kedua jalan ini maka dia berhadats dan harus berwudhu. Ada beberapa macam sesuatu yang keluar dari kedua jalan ini, antara lain:
a.       Air kencing dan tinja
Hal ini berdasarkan firman Allah subhaanahu wa ta’ala;
أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ
“… atau datang dari tempat buang air …” (Q.S. An-Nisa : 43)
Maksud dengan datang dari tempat buang air adalah seseorang telah melakukan hajatnya yaitu buang air kecil atau buang air besar.
b.      Kentut
إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ: أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا؟ فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ اَلْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا
"Apabila seseorang di antara kamu merasakan sesuatu dalam perutnya kemudian dia ragu-ragu apakah dia mengeluarkan sesuatu (kentut) atau tidak maka janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid kecuali ia mendengar suara atau mencium baunya" (H.R. Muslim, Shahih Muslim, bab. Ad dalil ‘ala anna man tayaqqona at thaharah, juz 2, hal. 276, no. 541. Hadits ini datang dari Abu Hurairah dan Abdullah ibn Zaid)
c.       Madzi dan Wadi
Berdasar pengakuan Aly r.a dimana beliau adalah orang yang sering keluar air madzi dari kemaluannya, beliau ragu tapi malu bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena kedudukannya sebagai mantunya. Akhirnya Aly r.a meminta kepada Miqdad ibn Al Aswad untuk menanyakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Kemudian Miqdan bertanya, dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab; “dalam masalah itu harus berwudhu”. (H.R. Bukhari, Shahih Bukhari, bab. Man lam yara al wudhua illa man, juz 1, h. 304, no. 172)
Madzi adalah cairan yang keluar kemaluan, biasanya ketika seseorang sedang menghayalkan hubungan badan dengan segala cumbu rayunya.
Wadi adalah cairan berwarna putih dan tebal lagi kasar, biasanya keluar ketika seseorang berada dalam keadaan cape. (lihat fikih wanita karya Syaikh Ahmad Jad, 2008, h. 40)
2.       Hilang akal
Hilang akal mengandung pengertian ketidak mampuan seseorang dalam mengendalikan perilaku dan perbuatannya sendiri. (lihat fikih wanita karya Syaikh Ahmad Jad, 2008, h. 41)
Dalam kondisi tidak sadar, seseorang tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya di waktu itu. Dengan demikian seseorang diwajibkan berwudlu ketika ia sudah sadarkan diri. Adapun yang termasuk kategori hilang akal atau tidak sadar adalah sebagai berikut;
a.       Gila; penyakit ini menyebabkan batalnya wudhu seseorang
b.      Mabuk; karena ketika mabuk seseorang hilang kesadarannya
c.       Pingsan dan tidur lelap; kedua hal ini menyebabkan batal wudlunya seseorang. Berdasarkan dalil;
كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم -عَلَى عَهْدِهِ- يَنْتَظِرُونَ اَلْعِشَاءَ حَتَّى تَخْفِقَ رُؤُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ
“Pernah para shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada jamannya menunggu waktu isya' sampai kepala mereka terangguk-angguk (karena kantuk) kemudian mereka shalat dan tidak berwudlu”. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud shahih menurut Daruquthni dan berasal dari riwayat Muslim)
Konteks hadits ini menunjukan bahwa tidur ringan (kantuk) tidak membatalkan wudhu. Sedangkan tidur lelap dalam posisi apapun, baik posisi duduk maupun telentang, menurut kesepakatan para ulama membatalkan wudhu. Wallahu a’lam
3.       Menyentuh kemaluan tanpa penghalang
Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum pada masalah ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Hibban dari Bisrah binti Shafwan bahwasanya nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda;
مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ
 "Barangsiapa menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudlu". (Lihat teks haidits ini di Sunan Abu Dawud, bab alwudhu man massa adz dzakar, juz 1, h. 224, no. 154).
Pendapat kedua menyatakan, bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, An Nasai dan dishahihkan oleh Ibn Hibban. Adalah Talq ibn Aly berkata;
كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ رَجُلٌ فَقَالَ مَسِسْتُ ذَكَرِي أَوْ الرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي الصَّلَاةِ عَلَيْهِ الْوُضُوءُ قَالَ لَا إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ
“Aku duduk di samping Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ada orang yang bertanya kepada beliau, tanyanya; saya menyentuh kemaluanku atau ia berkata: seseorang laki-laki menyentuh kemaluannya pada waktu shalat apakah ia wajib berwudlu ؟ Nabi menjawab: "Tidak karena ia hanya sepotong daging dari tubuhmu". (Lihat teks hadit ini dalam Musnad Ahmad, bab hadits Talq ibn Aly r.a, juz 33, h. 27, no. 15700. Bahkan Ibn Madiny berkata; hadits ini lebih kuat dari hadits yang dibawakan oleh Bisrah binti Safwan di atas).
Selanjutnya pendapat yang ketiga menyatakan, bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu apabila menyentuhnya diiringi dengan syahwat. Ini adalah riwayat dari Malik dan pendapat ini dipilih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani. Menurut orang-orang yang berpendapat dengan pendapat ini, bahwa hadits Bisrah binti Safwan maksudnya adalah menyentuh dengan syahwat. Sedangkan hadits Thalq ibn Aly maksudnya adalah menyentuhnya tanpa diiringi dengan syahwat sehingga tidak membatalkan wudhu, dan dengan ini kemaluan sama saja dengan anggota tubuh yang lainnya. Wallahu a’lam
4.       Murtad
Wudhu tidak akan berfungsi dan tidak ada faedahnya bagi orang yang keluar dari dienul Islam, kenapa? Karena wudhu merupakan bagian dari aktivitas ibadah atau pengabdian diri kepada Allah Azza wa Jalla. Dan orang kafir dicap oleh Allah Azza wa Jalla sebagai orang kafir, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“… Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. (Q.S. Al-Baqarah : 217)
Menurut Ibn Al-Araby; para ulama berbeda pendapat tentang nasib orang yang murtad ini. Apakah dia  semua amal kebaikannya akan terhapus atau tidak. Ada yang mengatakan terhapus semua amalannya, dan sebagian yang lain menyatakan tidak terhapus amalannya (Lihat tafsir ayat ini dalam Tafsir Ahkaam Al-Ayat li ibn Al-Araby). Namun disini kami akan menyampaikan sebuah ayat yang terkandung dalam surat Az-Zumar ayat : 65 yang berbunyi:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.
Demikian pembahsan sementara tentang hal-hal yang membatalkan wudlu, dan insya Allah untuk pembahasan hal-hal lain yang berkaitan dengan wudhu, sesuai dengan dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam maupun ijma’, akan kita lanjutkan dalam edisi berikutnya. Bersambung.

Oleh :

Iman Sulaeman
Makalah untuk Tsaqafah Rubrik Fiqih, semoga bermanfaat.

BERWUDLU 2

0 komentar

BERWUDLU
Pengertian
Di dalam kamus lisanul arab kata al wudlu dengan harakat dhammah pada huruf wawu berarti berwudlu yaitu baik dan bersih, sedangkan jika berharakat fathah di huruf yang sama seperti al wadlu maka berarti air yang dipergunakan untuknya. (lihat lianul arab 6/4, juga dinukil dalam subulussalam, 85)
Secara istilah syara’ wudlu adalah menggunakan air untuk membasuh anggota-anggota tubuh tertentu yang diawali dengan niat. (lihat fikih sunnah wanita, syaikh Ahmad Jad, 24). 
Maka bisa disimpulkan bahwa, berwudlu adalah membasuh dan mengusap sebagian anggota tubuh yang telah disyari’atkan oleh syara’ dengan air, seperti wajah (muka), tangan, dan kaki, yang diawali dengan niat.
Berwudlu merupakan syarat bagi sahnya shalat seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam;
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ  
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat salah seorang diantara kalian apabila berhadats sampai dia berwudhu”.(H.R. At Tirmidzi dari Abu Hurairah, 1/127 no. 71).
Di tegaskan lagi dalam hadits yang lain, bahwa berwudhu merupakan bagian dari keimanan seseorang, sebagaimana sabdanya;
الْوُضُوءِ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Wudlu merupakan bagian dari iman”.(H.R. An Nasai dari Abu Malik Al-Asy’ary, 8/153, no. 2394. Ibnu Majah, 1/330, no. 276)
Oleh karenanya Allah subhaanahu wa ta’ala mewajibkan bagi setiap muslim yang berhadats apabila hendak shalat untuk berwudhu. Sebagaimana firman-Nya;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.(Q.S. Al-Maidah : 6)

Kapan Waktu Diwajibkannya?
Dilihat dari segi waktu kapan diwajibkannya berwudlu? Para ulama berbada pendapat dalam hal ini. Ada yang menyebutkan, berwudlu diwajibkan ketika di Makkah, dan ada yang menyebutkan ketika Rasululullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di Madinah. Namun para ahli tahqiq menentukan bahwa berwudlu diwajibkan di Madinah, karena ayat di atas diturunkan di madinah. (lihat Subulussalam, Daar al bayan al arabiy, 2006, 1/58). Wallahu a’lam.

Keutamaan Berwudlu
Dalam berwdlu banyak sekali fadhilah-fadhilahnya, sebagaimana hadits yang datang dari Abu Hurairah r.a Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda;
إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ

Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudlu, kemudian dia membasuh wajahnya niscaya keluar setiap kesalahan dari wajahnya yang dia lihat dengan kedua matanya, bersamaan cucuran atau tetesan akhir air wudlu. Jika dia membasuh kedua tangannya, dosa-dosa yang dilakukan keluar bersama cucuran atau tetesan akhir air wudlu. Jika dia membasuh kedua kakinya, maka dosa-dosa yang dilangkahkan oleh keduanya keluar bersama cucuran atau tetesan akhir air wudlu, hingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.”(H.R. Malik, dalam Muwatha’ nya 1/81, no. 56. Muslim, 2/45, no. 360)
Dalam hadits lain pada riwayat yang sama disebutkan bahwa;
إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ فَتَمَضْمَضَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ فِيهِ وَإِذَا اسْتَنْثَرَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ أَنْفِهِ فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ وَجْهِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ يَدَيْهِ فَإِذَا مَسَحَ بِرَأْسِهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ أُذُنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْهِ قَالَ ثُمَّ كَانَ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ وَصَلَاتُهُ نَافِلَةً لَهُ

"Apabila seorang hamba mukmin berwudlu, lalu dia berkumur-kumur maka keluar dosa-dosa dari mulutnya. Apabila dia menyemburkan air yang telah dimasukkan ke hidung, maka dosa-dosa keluar dari hidungnya, jika dia membasuh wajahnya, maka dosa-dosa keluar dari wajahnya hingga keluar dari kedua kelopak matanya. Jika dia membasuh kedua tangannya, maka dosa-dosa keluar dari kedua tangannya hingga keluar dari kuku-kukunya, jika dia mengusap kepalanya, dosa-dosa keluar dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Jika dia membasuh kedua kakinya, maka dosa-dosa keluar dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya." Beliau bersabda: "Adapun perjalanan dia ke masjid dan shalatnya adalah tambahan baginya."(H.R. Malik dalam al muwaththa’, 1/80, no. 55)

Syarat Sah Wudlu
Ada beberapa syarat yang akan menjadikan wudlu seseorang menjadi sah, antara lain;
1.      Islam
2.      Mumayyiz
3.      Mengetahui cara-cara wudlu
4.      Tidak ada materi atau benda lain yang menghalangi air sampai ke kulit
5.      Tidak ada halangan apapun dari segi syari’at, seperti haidl dan nifas
6.      Air yang dipergunakan berwudlu harus suci.

Demikian pembahsan sementara tentang wudlu, dan insya Allah untuk pembahasan bagaimana tata cara berwudlu, sunnah-sunnah wudlu, hal-hal yang membatalkan wudlu, dan masalah lainnya, sesuai dengan dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, akan kita lanjutkan dalam edisi berikutnya. Bersambung.

Oleh :
Iman Sulaeman

BERWUDLU 1

0 komentar

BERWUDLU
Pengertian
Di dalam kamus lisanul arab kata al wudlu dengan harakat dhammah pada huruf wawu berarti berwudlu yaitu baik dan bersih, sedangkan jika berharakat fathah di huruf yang sama seperti al wadlu maka berarti air yang dipergunakan untuknya. (lihat lianul arab 6/4, juga dinukil dalam subulussalam, 85)
Secara istilah syara’ wudlu adalah menggunakan air untuk membasuh anggota-anggota tubuh tertentu yang diawali dengan niat. (lihat fikih sunnah wanita, syaikh Ahmad Jad, 24). 
Maka bisa disimpulkan bahwa, berwudlu adalah membasuh dan mengusap sebagian anggota tubuh yang telah disyari’atkan oleh syara’ dengan air, seperti wajah (muka), tangan, dan kaki, yang diawali dengan niat.
Berwudlu merupakan syarat bagi sahnya shalat seseorang. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam;
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ  
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat salah seorang diantara kalian apabila berhadats sampai dia berwudhu”.(H.R. At Tirmidzi dari Abu Hurairah, 1/127 no. 71).
Di tegaskan lagi dalam hadits yang lain, bahwa berwudhu merupakan bagian dari keimanan seseorang, sebagaimana sabdanya;
الْوُضُوءِ شَطْرُ الْإِيمَانِ
“Wudlu merupakan bagian dari iman”.(H.R. An Nasai dari Abu Malik Al-Asy’ary, 8/153, no. 2394. Ibnu Majah, 1/330, no. 276)
Oleh karenanya Allah subhaanahu wa ta’ala mewajibkan bagi setiap muslim yang berhadats apabila hendak shalat untuk berwudhu. Sebagaimana firman-Nya;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”.(Q.S. Al-Maidah : 6)

Kapan Waktu Diwajibkannya?
Dilihat dari segi waktu kapan diwajibkannya berwudlu? Para ulama berbada pendapat dalam hal ini. Ada yang menyebutkan, berwudlu diwajibkan ketika di Makkah, dan ada yang menyebutkan ketika Rasululullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berada di Madinah. Namun para ahli tahqiq menentukan bahwa berwudlu diwajibkan di Madinah, karena ayat di atas diturunkan di madinah. (lihat Subulussalam, Daar al bayan al arabiy, 2006, 1/58). Wallahu a’lam.

Keutamaan Berwudlu
Dalam berwdlu banyak sekali fadhilah-fadhilahnya, sebagaimana hadits yang datang dari Abu Hurairah r.a Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda;
إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ

Apabila seorang hamba muslim atau mukmin berwudlu, kemudian dia membasuh wajahnya niscaya keluar setiap kesalahan dari wajahnya yang dia lihat dengan kedua matanya, bersamaan cucuran atau tetesan akhir air wudlu. Jika dia membasuh kedua tangannya, dosa-dosa yang dilakukan keluar bersama cucuran atau tetesan akhir air wudlu. Jika dia membasuh kedua kakinya, maka dosa-dosa yang dilangkahkan oleh keduanya keluar bersama cucuran atau tetesan akhir air wudlu, hingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa-dosa.”(H.R. Malik, dalam Muwatha’ nya 1/81, no. 56. Muslim, 2/45, no. 360)
Dalam hadits lain pada riwayat yang sama disebutkan bahwa;
إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ فَتَمَضْمَضَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ فِيهِ وَإِذَا اسْتَنْثَرَ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ أَنْفِهِ فَإِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ وَجْهِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَشْفَارِ عَيْنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ يَدَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ يَدَيْهِ فَإِذَا مَسَحَ بِرَأْسِهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رَأْسِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ أُذُنَيْهِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ الْخَطَايَا مِنْ رِجْلَيْهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِ رِجْلَيْهِ قَالَ ثُمَّ كَانَ مَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ وَصَلَاتُهُ نَافِلَةً لَهُ

"Apabila seorang hamba mukmin berwudlu, lalu dia berkumur-kumur maka keluar dosa-dosa dari mulutnya. Apabila dia menyemburkan air yang telah dimasukkan ke hidung, maka dosa-dosa keluar dari hidungnya, jika dia membasuh wajahnya, maka dosa-dosa keluar dari wajahnya hingga keluar dari kedua kelopak matanya. Jika dia membasuh kedua tangannya, maka dosa-dosa keluar dari kedua tangannya hingga keluar dari kuku-kukunya, jika dia mengusap kepalanya, dosa-dosa keluar dari kepalanya hingga keluar dari kedua telinganya. Jika dia membasuh kedua kakinya, maka dosa-dosa keluar dari kedua kakinya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya." Beliau bersabda: "Adapun perjalanan dia ke masjid dan shalatnya adalah tambahan baginya."(H.R. Malik dalam al muwaththa’, 1/80, no. 55)

Syarat Sah Wudlu
Ada beberapa syarat yang akan menjadikan wudlu seseorang menjadi sah, antara lain;
1.      Islam
2.      Mumayyiz
3.      Mengetahui cara-cara wudlu
4.      Tidak ada materi atau benda lain yang menghalangi air sampai ke kulit
5.      Tidak ada halangan apapun dari segi syari’at, seperti haidl dan nifas
6.      Air yang dipergunakan berwudlu harus suci.

Demikian pembahsan sementara tentang wudlu, dan insya Allah untuk pembahasan bagaimana tata cara berwudlu, sunnah-sunnah wudlu, hal-hal yang membatalkan wudlu, dan masalah lainnya, sesuai dengan dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, akan kita lanjutkan dalam edisi berikutnya. Bersambung.

Oleh :
Iman Sulaeman

Minggu, 10 November 2013

Mencari Ilmu

0 komentar

MENCARI ILMU

Dalil Al-Qur’an

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآَنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[1], dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan[2]." (Q.S. Thaahaa : 114)

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”(Q.S. Az-Zumar : 9)

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari engkau semua dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa deraja[3]t. Dan Allah maha mengetahui terhadap apa yang kalian kerjakan." (Al-Mujadalah: 11)

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Hanyasanya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba- hambaNya itu ialah para alim-ulama." (Q.S. Faathir : 28)


Dalil Al-Hadits

وعن معاوية رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين متفق عليه

Dari Mu'awiyah r.a.,katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk memperoleh kebaikan, maka Allah membuat ia menjadi pandai dalam hal keagamaan." (Muttafaq 'alaih)
 
وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا حسد إلا في اثنتين رجل آتاه الله مالا فسلطه على هلكته في الحق ورجل آتاه الله الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها متفق عليه والمراد بالحسد الغبطة وهو أن يتمنى مثله

Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tiada kehasudan yang dibolehkan melainkan dalam dua macam perkara, yaitu: seseorang yang dikaruniai oleh Allah akan harta, kemudian ia mempergunakan untuk menafkahkannya itu guna apa-apa yang hak - kebenaran - dan seseorang yang dikaruniai ilmu pengetahuan oleh Allah, kemudian ia memberikan keputusan dengan ilmunya itu - antara dua orang atau dua golongan yang berselisih - serta mengajarkan ilmunya itu pula." (Muttafaq 'alaih)

Artinya ialah bahwa seseorang itu tidak patut dihasudi atau diiri kecuali dalam salah satu dari kedua perkara di atas itu untuk ditiru dan diamalkan seperti orang tersebut. Yang dimaksudkan dengan Alhasad ialah ghibthah yaitu mengharapkan seperti yang ada pada orang lain.

وعن أبي موسى رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل غيث أصاب أرضا فكانت منها طائفة طيبة قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير وكان منها أجادب أمسكت الماء فنفع الله بها الناس فشربوا منها وسقوا وزرعوا وأصاب طائفة منها أخرى إنما هي قيعان لا تمسك ماء وتنبت كلأ فذلك مثل من فقه في دين الله ونفعه ما بعثني الله به فعلم وعلم ومثل من لم يرفع بذلك رأسا ولم يقبل هدى الله الذي أرسلت به متفق عليه
وعن سهل بن سعد رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لعلي رضي الله عنه فو الله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم متفق عليه

Dari Abu Musa r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Perumpamaan dari petunjuk dan ilmu yang dengannya saya diutus oleh Allah itu adalah seperti hujan yang mengenai bumi. Di antara bumi itu ada bagian yang baik, yaitu dapat menerima air, kemudian dapat pula menumbuhkan rumput dan lalang yang banyak sekali, menahan masuknya air dan selanjutnya dengan air yang bertahan itu Allah lalu memberikan kemanfaatan kepada para manusia, karena mereka dapat minum daripadanya, dapat menyiram dan bercucuk tanam. Ada pula hujan itu mengenai bagian bumi yang lain, yang ini hanyalah merupakan tanah rata lagi licin. Bagian bumi ini tentulah tidak dapat menahan air dan tidak pula dapat menumbuhkan rumput. Jadi yang sedemikian itu adalah contohnya orang pandai dalam agama Allah dan petunjuk serta ilmu yang dengannya itu saya diutus, dapat pula memberikan kemanfaatan kepada orang tadi, maka orang itupun mengetahuinya - mempelajarinya, kemudian mengajarkannya - yang ini diumpamakan bumi yang dapat menerima air atau dapat menahan air, dan itu puIalah contohnya orang yang tidak suka mengangkat kepala untuk menerima petunjuk dan ilmu tersebut. Jadi ia
enggan menerima petunjuk Allah yang dengannya itu saya dirasulkan - ini contohnya bumi yang rata serta licin."
(Muttafaq 'alaih)

وعن سهل بن سعد رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لعلي رضي الله عنه فو الله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم متفق عليه

Dari Sahl bin Sa'ad r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda kepada Ali r.a.: "Demi Allah, niscayalah andaikata Allah memberikan petunjuk kepada seseorang lelaki dengan perantaraan usahamu, maka hal itu adalah lebih baik daripada unta-unta yang merah-merah," sebagai kiasan hartabenda yang paling dicintai oleh bangsa Arab.” (Muttafaq 'alaih)

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال بلغوا عني ولو آية وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار رواه البخاري

Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bersaba: "Sampaikanlah - kepada orang lain - ajaran yang berasal daripadaku, sekalipun hanya seayat belaka. Percakapkanlah tentang kaum Bani Israil - yakni kaum Yahudi - dan tidak ada halangan apapun. Dan barangsiapa yang berdusta atas diriku dengan sengaja maka baiklah ia menempati tempat duduknya dari neraka." (Riwayat Bukhari)

وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال ومن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة رواه مسلم

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang menempuh sesuatu jalan untuk mencari ilmu pengetahuan di situ, maka Allah akan mempermudahkan baginya suatu jalan untuk menuju ke syurga." (Riwayat Muslim)

وعنه أيضا رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا رواه مسلم

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk - yakni kebenaran, maka baginya adalah pahala seperti pahala-pahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka itu." (Riwayat Muslim)

وعنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له رواه مسلم

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila anak Adam - yakni manusia - meninggal dunia, maka putuslah amalannya - yakni tidak dapat menambah pahalanya lagi, melainkan dari tiga macam perkara, yaitu sedekah jariah atau ilmu yang dapat diambil kemanfaatannya atau anak yang shalih yang suka mendoakan untuknya." (Riwayat Muslim)

وعنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله تعالى وما والاه وعالما أو متعلما رواه الترمذي وقال حديث حسن قوله وما والاه أي طاعة الله

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dunia ini adalah terlaknat, terlaknat pula apa-apa yang ada di atasnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa itu adalah Hadis hasan.

Sabda Nabi s.a.w.: "Wa maa walah" artinya: Dan apa-apa yang menyamainya, ialah taat atau melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala.

وعن أنس رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله حتى يرجع رواه الترمذي وقال حديث حسن

Dari Anas r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia dianggap sebagai orang yang berjihad fi-sabilillah sehingga ia kembafi." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

وعن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لن يشبع مؤمن من خير حتى يكون منتهاه الجنة رواه الترمذي وقال حديث حسن

Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: "Tiada sekali-kali akan kenyanglah seseorang mu'min itu dari kebaikan, sehingga penghabisannya nanti adalah syurga." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

وعن أبي أمامة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فضل العالم على العابد كفضلي على أدناكم ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله وملائكته وأهل السموات والأرض حتى النملة في جحرها وحتى الحوت ليصلون على معلمي الناس الخير رواه الترمذي وقال حديث حسن

Dari Abu Umamah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Keutamaan orang alim atas orang yang beribadat ialah seperti keutamaanku atas orang yang terendah di antara engkau semua." "Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya, juga para penghuni langit dan bumi, sampaipun semut yang ada di dalam liangnya, bahkan sampaipun ikan hiu, niscayalah semua itu menyampaikan rahmat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada para manusia." Adapun yang selain Allah ialah memohonkan agar orang-orang yang mengajar kebaikan itu diberi kerahmatan oleh Allah.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

وعن أبي الدرداء رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من سلك طريقا يبتغي فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة وإن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يصنع وإن العالم ليستغفر له من في السموات ومن في الأرض حتى الحيتان في الماء وفضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب وإن العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما وإنما ورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر رواه أبو داود والترمذي

Dari Abuddarda' r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari sesuatu ilmu pengetahuan di situ, maka Allah akan memudahkan untuknya suatu jalan untuk menuju syurga, dan sesungguhnya para malaikat itu niscayalah meletakkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu itu, karena ridha sekali dengan apa yang dilakukan oleh orang itu. Sesungguhnya orang alim itu niscayalah dimohonkan pengampunan untuknya oleh semua penghuni di langit dan penghuni-penghuni di bumi, sampaipun ikan-ikan yu yang ada di dalam air. Keutamaan orang alim atas orang yang beribadat itu adalah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang yang lain. Sesungguhnya para alim ulama adalah pewarisnya para Nabi, se-sungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar ataupun dirham, hanyasanya mereka itu mewariskan ilmu. Maka barangsiapa dapat mengambil ilmu itu, maka ia telah mengambil dengan bagian yang banyak sekali." (Riwayat Abu Dawud dan Termidzi)

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول نضر الله امرءا سمع منا شيئا فبلغه كما سمعه فرب مبلغ أوعى من سامع رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح

Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah memberikan kenikmatan kepada seseorang yang mendengarkan sesuatu ucapan dari kami - yakni dari Nabi s.a.w. - lalu ia menyampaikannya sebagaimana yang didengar olehnya. Maka banyak sekali orang yang diberi berita itu lebih dapat mengingat-ingat - yakni lebih memperhatikan - daripada orang yang men-dengarnya sendiri?" Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من سئل عن علم فكتمه ألجم يوم القيامة بلجام من نار رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang ditanya mengenai sesuatu ilmu, lalu ia menyimpannya - yakni tidak suka menerangkan yang benar, maka ia akan diberi kendali - di mulutnya - besok pada hari kiamat dengan kendali dari neraka." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

وعنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من تعلم علما مما يبتغى به وجه الله عز وجل لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة يعني ريحها رواه أبو داود بإسناد صحيح

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan dari golongan ilmu yang semestinya untuk digunakan mencari keridhaan Allah 'Azzawajalla, tetapi ia mempelajarinya itu tiada lain maksunnya, kecuali hendak memperoleh sesuatu tujuan dari keduniaan, maka orang yang sedemikian tadi tidak akan dapat menemukan keharuman syurga pada hari kiamat." Yakni bau harumnya syurga itu tidak akan dapat dirasakannya.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رؤوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا متفق عليه

Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya Allah itu tidak mencabut ilmu pengetahuan dengan sekaligus pencabutan yang dicabutnya dari para manusia, tetapi Allah mencabut ruhnya para alim-ulama, sehingga apabila tidak ditinggalkannya lagi seorang alimpun - di dunia ini, maka orang-orang banyak akan mengangkat para pemimpin - atau kepala-kepala pemerintahan - yang bodoh-bodoh. Mereka - para pemimpin dan kepala - itu ditanya, lalu memberikan keterangan fatwa dengan tanpa menggunakan dasar ilmu pengetahuan. Maka akhirnya mereka itu semuanya sesat dan pula menyesatkan - orang lain." (Muttafaq 'alaih)


Oleh : Iman Sulaeman, MA
Makalah ini disampaikan pada acara kuliah subuh Out Bond STAI Al-Fatah Jurusan KPI, bertempat di Cisarua Bogor Jawa Barat, 12 Dzulhijjah 1434 M / 17 Oktober 2013 M.


[1] Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril a.s. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril a.s. selesai membacakannya, agar dapat Nabi Muhammad s.a.w. menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu.

[2] Kalimat ini menjadi do’a ketika hendak  mencari ilmu. Adapun kelengkapan do’anya ada di dalam hadits Rasulillah saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya dari Anas bin Malik :
اللهم انفعني بما علمتني ، وعلمني ما ينفعني ، وارزقني علما تنفعني به
“Ya Allah, berikanlah manfaat pada kami dari ilmu yang Engkau ajarkan. Dan ajarkanlah kami terhadap apa yang bermanfaat, dan berilah kami rizqi berupa ilmu yang bermanfaat.”

[3] Ibnu Katsir mengutip sebuah riwayat dari Imam Ahmad, dimana ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah beliau bertemu dengan Nafi’ bin Abdul Harits di Ashfan, dan Umar mengutusnya ke Mkkah, namun ketika Nafi’ udzur tidak bisa pergi menuju sebuah desa/lembah (al-ady) segingga mengutus yang lain. Umar bertanya; “Nafi’ siapa yang menggantikanmu pergi ke desa itu? Jawab Nafi’; “Yang menggantikan saya kepada mereka adalah Ibnu Abzy”. Umar bertanya lagi; “Siapa Ibnu Abzy? Jawabnya; seorang budak. Umar bertanya heran; ‘Engkau utus kepada mereka seorang budak?, Jawab Nafi’ ; ‘Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya ia orang yang sangat mengerti tentang Al-Qur’an, tau ilmu fara’id, dan seorang qhadhi.’ Setelah mendengar jawaban itu Umar berkata; sesungguhnya Nabi kita bersabda;
إن الله يرفع بهذا الكتاب قومًا ويضع به آخرين
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Al-Qur’an ini suatu kaum dan akan merendahkan dengan Al-Qur’an ini kaum yang lainnya”