Al-Amtsal dalam Al-Qur’an
A. Definisi Amtsal Al-Qur’an
Dari segi bahasa, Amtsal
merupakan bentuk jama’ dari matsal, mitsl, dan matsil yang berarti sama dengan
syabah, syibh, dan syabih, yang sering diartikan dengan perumpamaan. Sedangkan
dari segi istilah, amtsal adalah menonjolkan makna dalam
bentuk perkataan yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh mendalam
terhadap jiwa, baik berupa tasybih ataupun perkataan bebas (lepas, bukan
tasybih).
B. Unsur-unsur Amtsal Al-Qur’an
Sebagian Ulama mengatakan bahwa Amtsal memiliki
empat unsur, yaitu:
1. Wajhu Syabah: segi perumpamaan
2. Adaatu Tasybih: alat yang dipergunakan untuk tasybih
3. Musyabbah: yang diperumpamakan
4. Musyabbah bih: sesuatu yang dijadikan perumpamaan
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.
Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha
luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Wajhu Syabah pada ayat di atas adalah “pertumbuhan yang
berlipat-lipat”. Adaatu tasybihnya adalah kata matsal. Musyabbahnya adalah
infaq atau shadaqah di jalan Allah. Sedangkan musyabbah bihnya adalah benih.
C. Macam-macam Amtsal dalam Al-Qur’an
1. Al-Amtsal
Al-Musharrahah Yaitu matsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafadzmatsal
atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Contohnya Q.S. Al-Baqarah: 261
sebagaiamana telah dijelaskan di atas.
2.
Al-Amtsal Al-Kaminah Yaitu matsal yang di dalamnya tidak disebutkan dengan
jelas lafadz tamsil tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam
kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada
yang serupa dengannya.
3.
Al-Amtsal Al-Mursalah Yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafadz
tasybih secara jelas, tetapi kalimat-kalimat tersebut berlaku sebagai tasybih
D. Faedah Amtsal Al Qur’an
1. Menonjolkan sesuatu yang hanya dapat dijangkau dengan akal
menjadi bentuk kongkrit yang dapat dirasakan atau difahami
oleh indera manusia.
2. Menyingkapkan hakikat dari mengemukakan sesuatu yang tidak
nampak menjadi sesuatu yang seakan-akan nampak.
3. Mengumpulkan makna yang menarik dan indah dalam ungkapan yang
padat, seperti dalam amtsal kaminah dan amtsal mursalah dalam ayat- ayat di
atas.
4. Memotivasi orang untuk mengikuti atau mencontoh perbuatan
baik seperti apa yang digambarkan dalam amtsal
5. Menghindarkan diri dari perbuatan negatif
6. Amtsal lebih berpengaruh pada jiwa, lebih efektif dalam
memberikan nasihat, lebih kuat dalam memberikan peringatan dan lebih dapat
memuaskan hati. Dalam Al-Qur’an Allah swt. banyak menyebut amtsal untuk
peringatan dan supaya dapat diambil ibrahnya.
7. Memberikan kesempatan kepada setiap budaya dan juga bagi
nalar para cendekiawan untuk menafsirkan dan mengaktualisasikan diri dalam
wadah nilai-nilai universalnya.
E. Ciri-Ciri Amtsal
Pembahasan
mengenai ciri-ciri Amtsal secara khusus dan terperinci belum ditemukan dalam
kitab-kitab Ulumul Qur’an. Namun dari beberapa keterangan yang ada, penulis
dapat merumuskan beberapa ciri-ciri amtsal
1. Mengandung penjelasan atas makna yang samar atau abstrak
sehingga menjadi jelas, konkret, dan berkesan.
2. Amtsal memiliki kesejajaran antara situasi-situasi perumpamaan
yang dimaksud dan padannya.
3. Ada keseimbangan (Tawazun) antara perumpanaan dan keadaan
yang dianologikan.
0 komentar:
Posting Komentar