Minggu, 13 Januari 2013

Mukjizat Al-Qur'an


MU’JIZAT AL-QUR’AN
1.     Pengertian
Menurut bahasa I’jaz berasal dari akar kata a’jaza yu’jizu yang artinya menjadikan lemah. Kata i’jaz satu akar kata dengan mu’jizat[1]. Kelemahan menurut pengertian umum adalah ketidakmampuan melakukan sesuatu,lawan dari kemampuan. Yang dimaksud dengan I’jaz dalam pembicaraan ini ialah menampakkan kebenaran nabi dalam pengakuannya sebagai rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi, yaitu Al-qur’an , dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka.[2]
Sifat dari sesuatu yang melemahkan (mu’jiz) tentunya berasal dari Allah, secara langsung atau tidak .Mu’jiz juga harus berupa sesuatu  yang menyalahi aturan kebiasaan yang khusus dimiliki oleh orang yang memperlihatkan sesuatu yang melemahkan itu (mu’jiz), harus sulit dilakukan manusia untuk melakukan hal yang sama, baik jenis ataupun sifatnya, dan harus dimiliki oleh orang yang mengaku mendapatkan kenabian yang hanya dapat dipercayai, maka apa saja yang memiliki sifat-sifat ini kami mengatakannya sebagai sesuatu yang melemahkan (mukjizat) dari segi istilah.[3]


2.      Kadar  Kemukjizatan al-Qur’an
1.      Golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa kemukjizatan  itu berkaitan dengan keseluruhan al-qur’an, bukan dengan sebagiannya, atau denagn setiap surahnya secara lengkap.
2.      Sebagian ulama berpendapat, sebagian kecil atau sebagian besar dari al-qur’an, tanpa harus satu surah penuh, juga merupakan mukjizat, berdasarkan firman Allah:
                Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal dengan al-quran...”(at-Tur[52]:34).
3.  Ulama yang lain berpendapat, kemukjizatan itu cukup hanya dengan satu surah lengkap sekalipun pendek, atau dengan ukuran satu surah, baik satu ayat atau beberapa ayat.
3.      Aspek Kemukjizatan al-qur’an
Aspek-aspek kemukjizatan dalam al-qur’an menurut Manna khalil al Qattan dalam bukunya  Al-Mabahits fi al –Ulum al-Quran adalah :
a.       Kemukjizatan Bahasa
Kemukjizatan  bahasa al-qur’an terdapat pada keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya  ketika kita mendengar harakat dan sukun-nya, mad dan ghunnah-nya, fashilah dan maqta-nya, sehingga telinga kita tidak pernah bosan , bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya
Kemukjizatan itu pun dapat kita temukan dalam lafadz-lafadznya yang memenuhi hak setiap makna pada tempatnya. Tidak satupun diantara  lafaz-lafaz itu yang dikatakan sebagai kelebihan. Juga tak ada seorang peneliti terhadap suatu tempat(dalam al-qura’an) yang menyatakan bahwa pada tempat itu perlu ditambahkan sesuatu lafaz karena ada kekurangan.
Ada alasan (mengapa mukjizat berupa teks bahasa), sebab bangsa Arab pandai berbahasa dan bersilat lidah, sebagaimana ada alasan bagi munculnya mukjizat nabi Isa as, karena banyak ahli kedokteran; dan bagi nabi Musa as karena banyak tukang sihir. Allah SWT menciptakan mukjizat-mukjizat para nabi, menghadapi kepandaian populer, sebagai bentuk keahlian yang paling diunggulkan pada zaman di mana nabi akan diutus. Ilmu sihir pada masa nabi Musa telah mencapai puncaknya . Demikian pula ilmu kedokteran pada masa nabi Isa as. Dan kemampuan berbahasa pada masa nabi Muhammad SAW.[4]
Kemukjizatan juga dapat kita temukan dalam dalam macam-macam khitab dimana berbagai golongan manusia yang berbeda tingkat intelektualitasnyadapat memahami khitab itu sesuai dengan tingkatan akalnya, sehingga masing-masing dari mereka memandangnya cocok dengan tingkatan akalnya dan sesuai dengan keperluannya, baik mereka orang awam maupun kalangan ahli
Dari segi uslub/susunan , al-Quran memiliki uslub yang begitu menakjubkan berbeda dengan uslub/susunan ucapan manusia, diantara keistimewaan itu adalah :
1.      Kelembutan Al-Quran secara lafzhiah  yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan bahasanya.
2.      Keserasian A-Quran baik untuk awam maupun kaum cendekiawan dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan keindahan  al-Quran.
3.      Sesuai dengan akal dan perasaan, dimana al-Quran memberikan doktrin  pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus.
4.      Keindahan sajian Al-Quran serta susunan bahasanya, seolah-olah merupakan suatu bingkai yang dapat memukau akal dan memusatkan tanggapan serta perhatian.
5.      Keindahannya dalam liku-liku ucapan atau kalimat serta beraneka-ragam dalam bentuknya, dalam arti bahwa satu makna diungkapkan dalam beberapa lafazh dan susunan yang bermacam-macam, yang semuanya indah dan halus.
6.      Al_Quran mencakup dan memenuhi persyaratan antara bentuk global dan bentuk yang terperinci (bayan).
7.      Dapat dimengerti sekaligus dengan melihat segi yang tersurat ( yang dikemukakan)[5]
Demikian pula kemukjizatan ditemukan dalam sifatnya yang dapat memuaskan akal dan menyenangkan perasaan. Al-qur’an dapat memenuhi kebutuhan jiwa manusia, pemikiran maupun perasaan, secara sama dan berimbang. Kekuatan pikir tidak akanmenindas kekuatan rasa dan kekuatan rasa pun tidak pula akan menindas kekuatan pikir.[6]
b. Kemukjizatan Ilmiah
Kemukjizatan ilmiah qur’an bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. Qur’an mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam. Ia tidak mengebiri aktivitas dan kreatifitas akal dalam memikirkan alam semesta, atau menghalanginya dari penambahan ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya. Dan tidak ada sebuah pun dari kitab-kitab agama terdahulu memberikan jaminan demikian seperti yang diberikan oleh Qur’an
Semua persoalan atau kaidah ilmu pengetahuan yang telah mantap dan meyakinkan, merupakan manifestasi dari pemikiran valid yang dianjurkan Qur’an, tidak ada pertentangan sedikitpun dengannya. Ilmu pengetahuan telah maju dadn telah banyak pula masalah-masalahnya, namun apa yang telah tetap dan mantap daripadanya tidak bertentangan sedikitpun dengan salah satu ayat-ayat Qur’an. Ini saja sudah merupakan kemukjizatan.
Al-Qur’an menjadikan pemikiran yang lurus dan perhatian yang tepat terhadap alam dan segala apa yang ada didalamnya sebagai sarana terbesar untuk beriman kepada Allah.
c.      Kemukjizatan Tasyri’
Umat manusia telah mengenal, di sepanjang masa sejarah, berbagai macam doktrin, pandangan, sistem dan tasyri (perundang-undangan) yang bertujuan tercapainya kebahagiaan individu di dalam masyarakat yang utama. Namun tidak satupun daripadanya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai Qur’an dalam kemukjizatan tasyri’nya
Aspek kemukjizatan al-quran menurut Nasr Hamid Abu Zaid adalah sebagai berikut :
a.             Kemukjizatan di luar teks
b.            Kemukjizatan di dalam teks
c.             Kemukjizatan di dalam bahasa[7]

Reference :

[1] Ahmad Warson Munawwir,Kamus aAl-Munawwir, (Yogyakarta : Pustaka Progessif, 1984),h 963
[2] Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-qur’an, (Bogor : Litera Antar Nusa,  2001), cet. Ke-6, h. 371
[3] Al-Qadhi Abdul Jabbar, Al-mughni fi abwab at-tauhid wa al adl, (Mesir : 1960) Juz 25, h. 99
[4] Badruddin Muhammad bin Abdillah  Az-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum al-Quran,( Beirut : Dar al-Ma’rifah,  1972) juz 2 cet ke-3 h. 58  
[5] Mohammad Aly ash Shabuny, at-Tibyan Pengantar study al-Quran (Bandung :PT Al-Maarif, 1996 ),Cet. 4 h. 125
[6] Manna Khalil al-Qattan, Op Cit. h. 383
[7] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-quran (Yogyakarta : LkiS. 2002) cet ke-2 h. 189

Sumber lain yang bisa dibaca : 1, 2, dan 3

0 komentar:

Posting Komentar