MU’JIZAT AL-QUR’AN
1.
Pengertian
Menurut
bahasa I’jaz berasal dari akar kata a’jaza yu’jizu yang artinya menjadikan
lemah. Kata i’jaz satu akar kata dengan mu’jizat[1].
Kelemahan menurut pengertian umum adalah ketidakmampuan melakukan sesuatu,lawan
dari kemampuan. Yang dimaksud dengan I’jaz dalam pembicaraan ini ialah
menampakkan kebenaran nabi dalam pengakuannya sebagai rasul dengan menampakkan
kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi, yaitu Al-qur’an ,
dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka.[2]
Sifat
dari sesuatu yang melemahkan (mu’jiz) tentunya berasal dari Allah,
secara langsung atau tidak .Mu’jiz juga harus berupa
sesuatu yang menyalahi aturan
kebiasaan yang khusus dimiliki oleh orang yang memperlihatkan sesuatu yang
melemahkan itu (mu’jiz), harus sulit dilakukan manusia untuk melakukan
hal yang sama, baik jenis ataupun sifatnya, dan harus dimiliki oleh orang yang
mengaku mendapatkan kenabian yang hanya dapat dipercayai, maka apa saja yang
memiliki sifat-sifat ini kami mengatakannya sebagai sesuatu yang melemahkan (mukjizat)
dari segi istilah.[3]
2. Kadar Kemukjizatan al-Qur’an
1. Golongan Mu’tazilah
berpendapat bahwa kemukjizatan itu berkaitan dengan
keseluruhan al-qur’an, bukan dengan sebagiannya, atau denagn setiap surahnya
secara lengkap.
2. Sebagian ulama
berpendapat, sebagian kecil atau sebagian besar dari al-qur’an, tanpa harus
satu surah penuh, juga merupakan mukjizat, berdasarkan firman Allah:
“Maka hendaklah mereka mendatangkan
kalimat yang semisal dengan al-quran...”(at-Tur[52]:34).
3. Ulama yang lain
berpendapat, kemukjizatan itu cukup hanya dengan satu surah lengkap sekalipun
pendek, atau dengan ukuran satu surah, baik satu ayat atau beberapa ayat.
3. Aspek Kemukjizatan
al-qur’an
Aspek-aspek
kemukjizatan dalam al-qur’an menurut Manna khalil al Qattan dalam bukunya Al-Mabahits fi al –Ulum
al-Quran adalah :
a. Kemukjizatan Bahasa
Kemukjizatan bahasa al-qur’an terdapat
pada keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya ketika kita
mendengar harakat dan sukun-nya, mad dan ghunnah-nya, fashilah dan maqta-nya, sehingga telinga
kita tidak pernah bosan , bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya
Kemukjizatan itu pun dapat kita temukan dalam
lafadz-lafadznya yang memenuhi hak setiap makna pada tempatnya. Tidak satupun
diantara lafaz-lafaz itu yang
dikatakan sebagai kelebihan. Juga tak ada seorang peneliti terhadap suatu
tempat(dalam al-qura’an) yang menyatakan bahwa pada tempat itu perlu
ditambahkan sesuatu lafaz karena ada kekurangan.
Ada alasan (mengapa mukjizat berupa teks bahasa), sebab
bangsa Arab pandai berbahasa dan bersilat lidah, sebagaimana ada alasan bagi
munculnya mukjizat nabi Isa as, karena banyak ahli kedokteran; dan bagi nabi
Musa as karena banyak tukang sihir. Allah SWT menciptakan mukjizat-mukjizat
para nabi, menghadapi kepandaian populer, sebagai bentuk keahlian yang paling
diunggulkan pada zaman di mana nabi akan diutus. Ilmu sihir pada masa nabi Musa
telah mencapai puncaknya . Demikian pula ilmu kedokteran pada masa nabi Isa as.
Dan kemampuan berbahasa pada masa nabi Muhammad SAW.[4]
Kemukjizatan juga dapat kita temukan dalam dalam
macam-macam khitab dimana berbagai golongan
manusia yang berbeda tingkat intelektualitasnyadapat memahami khitab itu sesuai
dengan tingkatan akalnya, sehingga masing-masing dari mereka memandangnya cocok
dengan tingkatan akalnya dan sesuai dengan keperluannya, baik mereka orang awam
maupun kalangan ahli
Dari segi uslub/susunan , al-Quran memiliki uslub yang
begitu menakjubkan berbeda dengan uslub/susunan ucapan manusia, diantara
keistimewaan itu adalah :
1. Kelembutan Al-Quran secara lafzhiah yang terdapat dalam
susunan suara dan keindahan bahasanya.
2. Keserasian A-Quran baik untuk awam maupun
kaum cendekiawan dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan
keindahan al-Quran.
3. Sesuai dengan akal dan perasaan, dimana
al-Quran memberikan doktrin pada akal dan hati, serta
merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus.
4. Keindahan sajian Al-Quran serta susunan
bahasanya, seolah-olah merupakan suatu bingkai yang dapat memukau akal dan
memusatkan tanggapan serta perhatian.
5. Keindahannya dalam liku-liku ucapan atau
kalimat serta beraneka-ragam dalam bentuknya, dalam arti bahwa satu makna
diungkapkan dalam beberapa lafazh dan susunan yang bermacam-macam, yang
semuanya indah dan halus.
6. Al_Quran mencakup dan memenuhi persyaratan
antara bentuk global dan bentuk yang terperinci (bayan).
Demikian pula kemukjizatan ditemukan dalam sifatnya yang
dapat memuaskan akal dan menyenangkan perasaan. Al-qur’an dapat memenuhi
kebutuhan jiwa manusia, pemikiran maupun perasaan, secara sama dan berimbang.
Kekuatan pikir tidak akanmenindas kekuatan rasa dan kekuatan rasa pun tidak
pula akan menindas kekuatan pikir.[6]
b.
Kemukjizatan Ilmiah
Kemukjizatan ilmiah qur’an bukanlah terletak pada
pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta
merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia
terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. Qur’an mendorong
manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam. Ia tidak mengebiri aktivitas
dan kreatifitas akal dalam memikirkan alam semesta, atau menghalanginya dari
penambahan ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya. Dan tidak ada sebuah pun
dari kitab-kitab agama terdahulu memberikan jaminan demikian seperti yang
diberikan oleh Qur’an
Semua persoalan atau kaidah ilmu pengetahuan yang telah
mantap dan meyakinkan, merupakan manifestasi dari pemikiran valid yang
dianjurkan Qur’an, tidak ada pertentangan sedikitpun dengannya. Ilmu
pengetahuan telah maju dadn telah banyak pula masalah-masalahnya, namun apa
yang telah tetap dan mantap daripadanya tidak bertentangan sedikitpun dengan
salah satu ayat-ayat Qur’an. Ini saja sudah merupakan kemukjizatan.
Al-Qur’an menjadikan pemikiran yang lurus dan perhatian
yang tepat terhadap alam dan segala apa yang ada didalamnya sebagai sarana
terbesar untuk beriman kepada Allah.
c. Kemukjizatan Tasyri’
Umat manusia telah mengenal, di sepanjang masa sejarah,
berbagai macam doktrin, pandangan, sistem dan tasyri (perundang-undangan) yang
bertujuan tercapainya kebahagiaan individu di dalam masyarakat yang utama.
Namun tidak satupun daripadanya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti
yang dicapai Qur’an dalam kemukjizatan tasyri’nya
Aspek kemukjizatan al-quran menurut Nasr Hamid Abu Zaid
adalah sebagai berikut :
a. Kemukjizatan di luar teks
b. Kemukjizatan di dalam teks
Reference :
[2] Manna Khalil al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Al-qur’an, (Bogor : Litera Antar
Nusa, 2001), cet. Ke-6, h. 371
[4] Badruddin Muhammad bin
Abdillah Az-Zarkasyi, al-Burhan fi ‘Ulum
al-Quran,( Beirut : Dar
al-Ma’rifah, 1972) juz 2 cet ke-3 h.
58
[5] Mohammad Aly ash Shabuny, at-Tibyan Pengantar study
al-Quran (Bandung :PT Al-Maarif,
1996 ),Cet. 4 h. 125
0 komentar:
Posting Komentar